ah dong ga kece lagi yah ci?

February 29th, 2008 by autobots

ay

February 29th, 2008 by autobots

Honesty_1

Hi, how are you friends?

Again, it’s been a long time not to write in my blog. Although, I’ve decided to write more often, but it is so difficult to spent sometimes just to sit in front of my vaio and try to pour what I’ve had in my mind.

I just had finished my friday prayer and lunch, and a minute after putting my self in my desk, I remembered that my inbox was fully loaded by thousands of e-mails. Some mails are just came from the mailing-list’s some are junk/spams. There was an e-mail that knocked my deepest heart. It was true story and it was so recomended for you to read. But since the story is written in Bahasa, and my english is got more worst than ever, therefore I consider to copy it into Bahasa. Please accept my apologize for using Bahasa in my blog and I hope after reading this short story, we might have something that brighten our heart.

"Manusia Super di Jembatan Setiabudi"

(taken from kisfm@yahoogroups.com)

Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.

Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi -

Jakarta

, dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk

Jakarta

saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan

"Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka

Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit

Jakarta

.

"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu

lima

ratus rupiah!" tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?" mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya, tukas saya!" lalu tak lama siwanita berkata "ambil
saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang" sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar "

Om

, bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".

"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu

Om

, biar ditukar dulu ..sebentar"

"Nggak apa apa , itu buat kalian" Lanjut saya
"jangan ..jangan

Om

, itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu
bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue " Buat apa ?" saya terbengong

"Habis teman saya lama sih Om , maaf, tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di

sana

, sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih

Om

, !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal

kan

orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…" percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.

Honesty in Rasuna Said

February 29th, 2008 by autobots

Hi, how are you friends?

Again, it’s been a long time not to write in my blog. Although, I’ve decided to write more often, but it is so difficult to spent sometimes just to sit in front of my vaio and try to pour what I’ve had in my mind.

I just had finished my friday prayer and lunch, and a minute after putting my self in my desk, I remembered that my inbox was fully loaded by thousands of e-mails. Some mails are just came from the mailing-list’s some are junk/spams. There was an e-mail that knocked my deepest heart. It was true story and it was so recomended for you to read. But since the story is written in Bahasa, and my english is got more worst than ever, therefore I consider to copy it into Bahasa. Please accept my apologize for using Bahasa in my blog and I hope after reading this short story, we might have something that brighten our heart.

"Manusia Super di Jembatan Setiabudi"
Honesty Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.

Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi - Jakarta , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan

"Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka

Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?" mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya, tukas saya!" lalu tak lama siwanita berkata "ambil
saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang" sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar " Om , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".

"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar"

"Nggak apa apa , itu buat kalian" Lanjut saya
"jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu
bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue " Buat apa ?" saya terbengong

"Habis teman saya lama sih Om , maaf, tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…" percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain.

"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.

Salam,
Hindarta —-> Dari Milis Sebelah

.

Honesty in Rasuna Said

February 29th, 2008 by autobots

Hi, how are you friends?

Again, it’s been a long time not to write in my blog. Although, I’ve decided to write more often, but it is so difficult to spent sometimes just to sit in front of my vaio and try to pour what I’ve had in my mind.

I just had finished my friday prayer and lunch, and a minute after putting my self in my desk, I remembered that my inbox was fully loaded by thousands of e-mails. Some mails are just came from the mailing-list’s some are junk/spams. There was an e-mail that knocked my deepest heart. It was true story and it was so recomended for you to read. But since the story is written in Bahasa, and my english is got more worst than ever, therefore I consider to copy it into Bahasa. Please accept my apologize for using Bahasa in my blog and I hope after reading this short story, we might have something that brighten our heart.

"Manusia Super di Jembatan Setiabudi"
Honesty Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.

Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi - Jakarta , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan

"Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka

Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?" mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya, tukas saya!" lalu tak lama siwanita berkata "ambil
saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang" sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar " Om , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".

"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar"

"Nggak apa apa , itu buat kalian" Lanjut saya
"jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu
bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue " Buat apa ?" saya terbengong

"Habis teman saya lama sih Om , maaf, tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…" percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain.

"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.

Salam,
Hindarta —-> Dari Milis Sebelah

.

Honesty in Rasuna Said

February 29th, 2008 by autobots

Hi, how are you friends?

Again, it’s been a long time not to write in my blog. Although, I’ve decided to write more often, but it is so difficult to spent sometimes just to sit in front of my vaio and try to pour what I’ve had in my mind.

I just had finished my friday prayer and lunch, and a minute after putting my self in my desk, I remembered that my inbox was fully loaded by thousands of e-mails. Some mails are just came from the mailing-list’s some are junk/spams. There was an e-mail that knocked my deepest heart. It was true story and it was so recomended for you to read. But since the story is written in Bahasa, and my english is got more worst than ever, therefore I consider to copy it into Bahasa. Please accept my apologize for using Bahasa in my blog and I hope after reading this short story, we might have something that brighten our heart.

"Manusia Super di Jembatan Setiabudi"
Honesty Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.

Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi - Jakarta , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan

"Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka

Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?" mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya, tukas saya!" lalu tak lama siwanita berkata "ambil
saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang" sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar " Om , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".

"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar"

"Nggak apa apa , itu buat kalian" Lanjut saya
"jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu
bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue " Buat apa ?" saya terbengong

"Habis teman saya lama sih Om , maaf, tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…" percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain.

"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.

Salam,
Hindarta —-> Dari Milis Sebelah

.

Honesty in Rasuna Said

February 29th, 2008 by autobots

Hi, how are you friends?

Again, it’s been a long time not to write in my blog. Although, I’ve decided to write more often, but it is so difficult to spent sometimes just to sit in front of my vaio and try to pour what I’ve had in my mind.

I just had finished my friday prayer and lunch, and a minute after putting my self in my desk, I remembered that my inbox was fully loaded by thousands of e-mails. Some mails are just came from the mailing-list’s some are junk/spams. There was an e-mail that knocked my deepest heart. It was true story and it was so recomended for you to read. But since the story is written in Bahasa, and my english is got more worst than ever, therefore I consider to copy it into Bahasa. Please accept my apologize for using Bahasa in my blog and I hope after reading this short story, we might have something that brighten our heart.

"Manusia Super di Jembatan Setiabudi"
Honesty Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.

Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi - Jakarta , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan

"Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka

Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?" mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya, tukas saya!" lalu tak lama siwanita berkata "ambil
saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang" sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar " Om , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".

"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar"

"Nggak apa apa , itu buat kalian" Lanjut saya
"jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu
bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue " Buat apa ?" saya terbengong

"Habis teman saya lama sih Om , maaf, tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…" percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain.

"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.

Salam,
Hindarta —-> Dari Milis Sebelah

.

Honesty in Rasuna Said

February 29th, 2008 by autobots

Hi, how are you friends?

Again, it’s been a long time not to write in my blog. Although, I’ve decided to write more often, but it is so difficult to spent sometimes just to sit in front of my vaio and try to pour what I’ve had in my mind.

I just had finished my friday prayer and lunch, and a minute after putting my self in my desk, I remembered that my inbox was fully loaded by thousands of e-mails. Some mails are just came from the mailing-list’s some are junk/spams. There was an e-mail that knocked my deepest heart. It was true story and it was so recomended for you to read. But since the story is written in Bahasa, and my english is got more worst than ever, therefore I consider to copy it into Bahasa. Please accept my apologize for using Bahasa in my blog and I hope after reading this short story, we might have something that brighten our heart.

"Manusia Super di Jembatan Setiabudi"
Honesty Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.

Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi - Jakarta , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan

"Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka

Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?" mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya, tukas saya!" lalu tak lama siwanita berkata "ambil
saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang" sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar " Om , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".

"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar"

"Nggak apa apa , itu buat kalian" Lanjut saya
"jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu
bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue " Buat apa ?" saya terbengong

"Habis teman saya lama sih Om , maaf, tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…" percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain.

"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.

Salam,
Hindarta —-> Dari Milis Sebelah

.

Honesty in Rasuna Said

February 29th, 2008 by autobots

Hi, how are you friends?

Again, it’s been a long time not to write in my blog. Although, I’ve decided to write more often, but it is so difficult to spent sometimes just to sit in front of my vaio and try to pour what I’ve had in my mind.

I just had finished my friday prayer and lunch, and a minute after putting my self in my desk, I remembered that my inbox was fully loaded by thousands of e-mails. Some mails are just came from the mailing-list’s some are junk/spams. There was an e-mail that knocked my deepest heart. It was true story and it was so recomended for you to read. But since the story is written in Bahasa, and my english is got more worst than ever, therefore I consider to copy it into Bahasa. Please accept my apologize for using Bahasa in my blog and I hope after reading this short story, we might have something that brighten our heart.

"Manusia Super di Jembatan Setiabudi"
Honesty Siang di bulan February 2008, tanpa sengaja, saya bertemu dua manusia
super. Mereka mahluk mahluk kecil, kurus, kumal berbasuh keringat.

Tepatnya diatas jembatan penyeberangan setia budi - Jakarta , dua sosok kecil berumur kira kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam.
Saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue diujung jembatan, dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan

"Terima kasih Oom !". Saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan
Cuma mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk kearah mereka.

Kaki - kaki kecil mereka menjelajah lajur lain diatas jembatan, menyapa seorang laki laki lain dengan tetap berpolah seorang anak kecil yang penuh keceriaan, laki laki itupun menolak dengan gaya yang sama dengan saya, lagi-lagi sayup sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka

Kantong hitam tampat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok
disudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta . Saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu, duapertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan .

Setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati
mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita, senyum diwajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang manggayut langit Jakarta .

"Terima kasih ya mbak .semuanya dua ribu lima ratus rupiah!" tukas
mereka, tak lama siwanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah.

"Maaf, nggak ada kembaliannya. .ada uang pas nggak mbak ?" mereka
menyodorkan kembali uang tersebut. Si wanita menggeleng, lalu dengan
sigapnya anak yang bertubuh lebih kecil menghampiri saya yang tengah
mengamati mereka bertiga pada jarak empat meter.

"Oom boleh tukar uang nggak, receh sepuluh ribuan?" suaranya
mengingatkan kepada anak lelaki saya yang seusia mereka, saya sedikit
terhenyak saya merogoh saku celana dan hanya menemukan uang sisa kembalian food court sebesar empat ribu rupiah.

"Nggak punya, tukas saya!" lalu tak lama siwanita berkata "ambil
saja kembaliannya, dik !" sambil berbalik badan dan meneruskan langkahnya kearah ujung sebelah timur.

Anak ini terkesiap, ia menyambar uang empat ribuan saya dan
menukarnya dengan uang sepuluh ribuan tersebut dan meletakkannya kegenggaman saya yang masih tetap berhenti, lalu ia mengejar wanita tersebut untuk memberikan uang empat ribu rupiah tadi. Siwanita kaget, setengah berteriak ia bilang" sudah buat kamu saja, nggak apa..apa ambil saja !", namun mereka berkeras mengembalikan uang tersebut. "maaf mbak, Cuma ada empat ribu, nanti
kalau lewat sini lagi saya kembalikan !" Akhirnya uang itu diterima
si wanita karena sikecil pergi meninggalkannya.

Tinggallah episode saya dan mereka, uang sepuluh ribu digenggaman saya tentu bukan sepenuhnya milik saya. Mereka menghampiri saya dan berujar " Om , bisa tunggu ya, saya kebawah dulu untuk tukar uang ketukang ojek !".

"eeh .nggak usah ..nggak usah ..biar aja ..nih !" saya kasih uang itu
ke sikecil, ia menerimanya tapi terus berlari kebawah jembatan menuruni tangga yang cukup curam menuju ke kumpulan tukang ojek.

Saya hendak meneruskan langkah tapi dihentikan oleh anak yang satunya, "Nanti dulu Om , biar ditukar dulu ..sebentar"

"Nggak apa apa , itu buat kalian" Lanjut saya
"jangan ..jangan Om , itu uang om sama mbak yang tadi juga" anak itu
bersikeras
" Sudah ..saya Ikhlas , mbak tadi juga pasti ikhlas ! saya berusaha
membargain, namun ia menghalangi saya sejenak dan berlari keujung
jembatan berteriak memanggil temannya untuk segera cepat, secepat kilat juga ia meraih kantong plastik hitamnya dan berlari kearah saya.

" Ini deh om , kalau kelamaan , maaf .." ia memberi saya delapan pack tissue " Buat apa ?" saya terbengong

"Habis teman saya lama sih Om , maaf, tukar pakai tissue aja dulu "
walau dikembalikan ia tetap menolak.

Saya tatap wajahnya , perasaan bersalah muncul pada rona mukanya . Saya kalah set, ia tetap kukuh menutup rapat tas plastic hitam tissuenya.

Beberapa saat saya mematung di sana , sampai sikecil telah kembali
dengan genggaman uang receh sepuluh ribu, dan mengambil tissue dari tangan saya serta memberikan uang empat ribu rupiah.

"Terima kasih Om , !"..mereka kembali keujung jembatan sambil sayup
sayup terdengar percakapan " Duit mbak tadi gimana ..? " suara kecil yang lain menyahut "lu hafal kan orangnya, kali aja ketemu lagi ntar kita kasihin…" percakapan itu sayup sayup menghilang, saya terhenyak dan kembali kekantor dengan seribu perasaan.

Tuhan ..Hari ini saya belajar dari dua manusia super, kekuatan
kepribadian mereka menaklukan Jakarta membuat saya trenyuh, mereka berbalut baju lusuh tapi hati dan kemuliaannya sehalus sutra, mereka tahu hak mereka dan hak orang lain, mereka berusaha tak meminta-minta dengan berdagang Tissue.

Dua anak kecil yang bahkan belum baligh , memiliki kemuliaan diumur
mereka yang begitu belia.

YOU ARE ONLY AS HONORABLE AS WHAT YOU DO
Engkau hanya semulia yang kau kerjakan.

MT

Saya membandingkan keserakahan kita, yang tak pernah ingin sedikitpun
berkurang rizki kita meski dalam rizki itu sebetulnya ada milik orang
lain.

"Usia memang tidak menjamin kita menjadi Bijaksana, kitalah yang
memilih untuk menjadi bijaksana atau tidak"

Semoga pengalaman nyata ini mampu menggugah saya dan teman lainnya
untuk lebih SUPER.

Salam,
Hindarta —-> Dari Milis Sebelah

.

Insomnia : to be continued

October 17th, 2007 by autobots

Good GOD !! Hellooo people, haha, tell me it’s been almost 10 month, I never write on my blog. GOSH !!!!

I have tons of stories which made myself confused, which one should I write it first. So, I just kept it on my mind.

Though, now I’ve just read my friends blog, which encourage me to visit my ownnnn blog and at least left something in my holy page hehehe.

I barely couldnt sleep now, it’s almost 3.30am, I dont know why, I almost fall a sleep couple hours ago, but this bloody vaio kept calling me to stay online alltime. Information technology does matter mate, when the world is on your finger, everything’s look easy and close even you’re miles away.

Today, I would rather stop right here. Otherwise, may I stay awake and my weak body will suffer from morning-illness. But promise me, that I’ll keep writing and telling you stories. So many thing in my mind, but unfortunately my problems seems became my major-one that have to be solved. Which, I have half-dozen big prob’s.

So, mate’s, reader’s, and friend’sta, talk to you later and hopefully to see you a bit from now. Takecare, goodluck and have a great remaining holiday (for you people in Jakarta).

Ciao !!

My AA Job

March 14th, 2007 by autobots

During my study at KDI School, I worked as a part-time job for Centre for Conflict Resolution and Negotiation (CCRN), an agency which is established by the KDI School. CCRN become one of an important agency in my campus. I just heard and knew that many of Business School in Europe and States (Harvard, etc) develop the same agency as ours. Especially for a public policy program, this agency can play an important role for the students to learn for instance their study case. Since then, CCRN have many programs that have to be conducted during a year such as organizing seminar, a mediation process between two or three party, and a lecture too.

My position is as an Administrative Assistant (AA). What is AA? Well, for you who think that AA is prestigious job, well you wrong then. AA deals with anything that related to our centre. It is difficult to explain by words, but I have to finish all the things that our centre did. Supposed if our centre held a seminar or a conference, we have to prepare from the beginning until the end. Ah…wait!, I found the exact word, AA was related to administration things though. Even it is only administration things, but we have to meet many people to work together. And since only few Koreans who can speak English well, language barrier has become a primary obstacle. I started worked at CCRN from April until December 2006. It is not easy too get an AA job especially when every student also applies those positions. In my case, I failed to get AA in the spring, but luckily I got on summer. Satisfaction is one big reason for them to hire me again in the fall, even though at that time I didn’t expect too much though. My salary? Well is not too much if you compare with living cost in Korea, but for me to get an experience is my number one goal when I apply the AA.

My supervisor has just got married last December, she’s a one hell tough woman that have a high motivation, disciplined and a hard working one too. Like as other Korean does, if you started to work then hard working is a must. She was well known as a lady killer. I heard from other faculty staff and last year student. Actually, until I finished my job in the middle of December, I never had any conflict with her. It is awkward because before I joined with CCRN, 2 (two) students resigned. Most of the reasons are they dislike her. They said she was too tough and workaholic, so sometimes she wanted them to worked over time even in the weekend. For me, even though I didn’t hear any of those gossips and also I didn’t care with any, giving my best help to the Centre is my objectives. Despite of the gossips above, my supervisor keen to ask me for a lunch or dinner together whenever we had to work overtime. She’s very-very nice person and pretty too (haha.. it’s getting too personal I believe..), I can understand if she become a lady killer in a working hours, because we have to work professional, am I right?

Moreover, she has a responsibility of her work to our Director. He finished his Phd in states (like other Professors did) and have a very good reputation in this country (hehe like others of our Professors too). Speaking of hard working, he’s one of a type as my supervisors too. Hmm, ok should I put it clear here that, all Koreans were so damned hard working persons. No question and no doubt about that. In fall, I took one class which my Director conducted. It was a very good class and I learned a lot from him.

As I mentioned before in my previous posts, I spent a hell great time in Korea. And one of those is when I worked in CCRN. I miss my time when I worked there. Working is like learning by doing. Working can be fun if we can enjoy our job. Well talk is cheap but hard to be done, but my experience will be very useful for myself and my ministry in the future. And I believe that for sure!